Jun 9, 2009 195
PARA MISIONARI MENGGONCANG 3 YERIKO
Selama minggu-minggu pelatihan misionari yang berlangsung dengan sangat keras, para instruktur di misionari selalu mengarahkan pikiran kami untuk meletakkan dan menyerahkan semua keahlian dan talenta yang kami miliki di bawah kaki Kristus sebagai dasar untuk menjadi manusia doa yang berserah.
Dasar dari penarikan jiwa yang selalu di tekankan dalam setiap pelatihan adalah bagaimana kami harus belajar bekerja dalam tim, mengorbankan diri kami sendiri dan berbeban bagi orang lain. Dan cara yang paling efektif adalah tidak hanya mengajarkan Injil tapi harus menjadi Injil itu sendiri sesuai yang dikatakan II Korintus 3:3 “Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.”
Puncak dalam pelatihan ini terjadi ketika kami (Missionari angkatan ke-7) melakukan Kebaktian Kebangunan Rohani atau Cottage Meeting di 3 tempat yang berbeda, yaitu Lelema dan Toulimembet (Minahasa Selatan) & Bohabak (Bolaang Mongondouw).
Fokus dalam cottage meeting ini adalah untuk melatih para misionari agar dapat bekerja optimal dalam pelayanan yang sungguh-sungguh. Kedua adalah untuk melatih jemaat dalam melaksanakan meditasi Alkitab, doa pribadi dan kelompok, penginjilan pribadi.
Desa Toulimembet
Kelompok pertama yang berjumlah 16 misionari melayani Jemaat Toulimembet, Kecamatan Kakas – Minahasa Selatan. Permulaan Cottage Meeting yang berlangsung, seperti biasanya di lakukan mulai pukul 3 pagi, di tandai dengan “Prayer Marching” mengelilingi desa tersebut sambil berdoa dan menangis untuk seluruh masyarakat yang ada.
Saat Cottage Meeting berlangsung, para misionari yang berkunjung dari rumah ke rumah setiap hari mendapat banyak penolakan saat mereka menutup pintu dan lari lewat pintu belakang. Ada yang berpura-pura tidak mendengar. Ada yang merespons bahwa mereka tidak perlu di ajar oleh gereja lain karena agama mereka cukup untuk belajar tentang keselamatan. Bahkan ada yang telah di ajar namun tidak mau membuat keputusan karena rasa solider dan takut yang tinggi antar keluarga mereka dan juga para pimpinan agama mereka.
Namun para misionari tidak putus asa, bahkan mereka justru bertelut di depan pintu kemudian menangis dan berdoa. Saat mereka pulang seharian setelah melawat mereka membuat komitmen dengan berdoa semalam suntuk di bukit, bahkan berpuasa. Sehingga akhirnya Tuhan menghadiahkan mereka jiwa untuk di baptis. Di samping itu masih ada 3 jiwa lain yang sudah menyatakan diri untuk di baptis namun belum sempat di lakukan karena saat kami kembali ke kampus, para majelis mereka masih menjaga para lawatan tersebut.
Satu mujizat yang terjadi pada malam terakhir KKR, terjadi pemadaman listrik sebelum acara dimulai dan saat yang sama generator yang ada rusak total. Kondisi generator saat itu sangat parah karena ring sehernya rusak serta bensinnya telah bercampur dengan oli mesin. Secara teori sangat mustahil untuk dinyalakan. Tidak ada cara lain yang dapat lakukan selain berdoa. Para misionari berkumpul berdoa mengelilingi generator supaya bisa menyala. Setelah selesai berdoa kami menyalakan generator tersebut. Mujizat terjadi, generator hidup walau pengatur bensin dalam keadaan tidak mengalir namun mesin berjalan selama 15 menit. Setelah itu mesin dapat berjalan normal kembali sampai selesai kegiatan.
Desa Lelema
Kelompok ke dua berjumlah 14 misionari di tempatkan di desa Lelema, kecamatan Tumpaan. Sebelum Cottage Meeting diadakan semua undangan telah disebarkan kepada warga dan gereja lain yang ada. Reaksi yang terjadi, pada malam pertama semua gereja yang ada menghimbau semua warga untuk beribadah bersama di luar jadwal yang biasanya. Hanya untuk mengalihkan perhatian dari KKR yang diadakan. Hal ini berlangsung dari malam ke malam. Namun sebaliknya banyak anak-anak dan remaja yang menghadiri KKR setiap malam. Hal ini kami rasakan hanya karena kuasa doa dan puasa sebelum KKR bersama jemaat. Doa kami hanya ditujukan sepenuhnya untuk warga Lelema agar dapat mengenal kebenaran. Melalui bombing prayer dan prayer marching bersama jemaat, Tuhan menjawab semuanya.
Ada jiwa yang sudah mengambil keputusan untuk dibaptis tetapi sering menghindar dari kami. Namun kami terus berdoa dan akhirnya dipertemukan dengannya dan akhirnya dia memutuskan untuk dibaptiskan.
Desa Bohabak-Bolaang-Mongondouw.
Kelompok ketiga yang berjumlah 14 misionari juga di kirim ke Jemaat Bohabak – Bolaang Mongondow. Kami menemukan banyak tantangan tatkala masyarakat sekitar mulai memperhatikan pergerakan kami yang terang-terangan datang ke rumah mereka.
Melalui kunjungan-kunjungan inilah kami mendapatkan seorang pelajar Alkitab yang bekerja sebagai Guru dan penggerak PKK. Dia rindu untuk menerima baptisan. Namun ketika suaminya mengetahuinya timbullah masalah. Dia dianiya oleh suaminya sehingga harus meninggalkan rumah beserta ke-2 putrinya. Kemudian suaminya melaporkan hal ini kepada Polisi. Hal ini mengundang amarah dari masyarakat yang mengetahuinya. Seluruh Majelis Agama baik Islam dan Kristen berkumpul karena keberatan atas perbuatan misionari. Seluruh misionari ketika mengetahui hal itu hanya dapat berdoa dan berpuasa.
Kemudian Tuhan bekerja melalui 2 orang polisi yang datang mengamankan Ibu tersebut. Ibu ini dibawa ke hadapan Majelis Agama. Dia mempertahankan kebenaran yang baru dia pelajari dan meminta haknya untuk kebebasannya memilih agama.
Puji Tuhan karena ini adalah waktunya panen jiwa bagi desa Bohabak. Kami hampir tidak pernah membuat panggilan kepada para lawatan. Justru ada ada seorang islam yang membuat keputusan karena di ajak oleh teman protestan yang lain untuk di baptiskan di Advent.
Saudaraku sekalian, kuasa Tuhan sedang bekerja, dan hingga kami meninggalkan ketiga tempat itu sekalipun, para anggota masih mengharapkan kami untuk melayani di tempat mereka. Terima kasih Tuhan karena 18 Jiwa yang telah engkau tuai untuk di persiapkan melayani di ladang-Mu dan mempersiapkan kedatangan Tuhan kedua kali.
Zepta, Devi dan Agus (Ketua-ketua team Misionari Angkatan ke-7
Sabat, tanggal 24 Maret 2007, merupakan pesta iman dan komitmen bagi para misionari. Sebanyak 26 misionari dengan resmi di lepaskan oleh Pdt. Bobby J. Sepang, Ketua Uni Konfrens Indonesia Kawasan Timur. Dalam amanat pelepasannya, pelopor pekerjaan TSPM di Indonesia ini dengan antusias menegaskan bahwa “…Tuhan selalu hadir dan Tuhan selalu melihat keberadaan para misionari di ladang mereka…”.
Saat mengadakan pelayanan, saya sakit. Saat itu saya berdoa: “Tuhan…! Bantu saya… Pekerjaan-Mu tidak boleh terhenti…” Saya tidak menyerah dengan keadaan saya saat itu dan tetap bersemangat melayani Tuhan sekalipun saya harus mati. Walaupun harus mati, biarlah saya mati di ladang penginjilan. Sungguh Luar biasa! Tuhan bekerja dengan alat yang sederhana! Hanya dengan minum carchol (arang kelapa) saya sembuh. Setelah kejadian itu, saya lebih semangat lagi untuk melayani Tuhan karena saya telah melihat bahwa DIA bekerja bersama-sama dengan saya.
Perlahan-lahan saya dan patner saya mendekati pendeta itu, juga dibantu oleh bapak John. Bapak John adalah anggota Gereja Advent di tempat ini. Ia sangat banyak membantu kami selama pelayanan di Sorong. Akhirnya, bapak pendeta Imanuel menerima kebenaran Hari Sabat. “Wilsen… Hengky… Biarkan perlahan-lahan kita memperkanalkan Hari Sabat kepada warga…” kata pendeta Imanuel pada kami.
Oleh karena dedikasi yang tinggi serta untuk sebuah maksud yang mulia-lah maka Anda telah datang ke kampus ‘1000 Missionary’ ini. Hari ini dan hari-hari selanjutnya Anda akan dibina, diarahkan, dan disiapkan untuk menjadi ‘Pengabar-pengabar Injil’ yang handal, setelah itu Anda akan ‘diterjunkan di lapangan’, melaksanakan Amanat Agung Yesus Kristus, menyampaikan ‘Kabar Baik’ kepada mereka yang belum mengenal Dia.
Recent Comments