archives1000mm

archives1000mm

PARA MISIONARI MENGGONCANG 3 YERIKO

102_5376 Selama minggu-minggu pelatihan misionari yang berlangsung dengan sangat keras, para instruktur di misionari selalu mengarahkan pikiran kami untuk meletakkan dan menyerahkan semua keahlian dan talenta yang kami miliki di bawah kaki Kristus sebagai dasar untuk menjadi manusia doa yang berserah.

Dasar dari penarikan jiwa yang selalu di tekankan dalam setiap pelatihan adalah bagaimana kami harus belajar bekerja dalam tim, mengorbankan diri kami sendiri dan berbeban bagi orang lain. Dan cara yang paling efektif adalah tidak hanya mengajarkan Injil tapi harus menjadi Injil itu sendiri sesuai yang dikatakan II Korintus 3:3 “Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.”

Puncak dalam pelatihan ini terjadi ketika kami (Missionari angkatan ke-7) melakukan Kebaktian Kebangunan Rohani atau Cottage Meeting di 3 tempat yang berbeda, yaitu Lelema dan Toulimembet (Minahasa Selatan) & Bohabak (Bolaang Mongondouw).

Fokus dalam cottage meeting ini adalah untuk melatih para misionari agar dapat bekerja optimal dalam pelayanan yang sungguh-sungguh. Kedua adalah untuk melatih jemaat dalam melaksanakan meditasi Alkitab, doa pribadi dan kelompok, penginjilan pribadi.

Desa Toulimembet

Kelompok pertama yang berjumlah 16 misionari melayani Jemaat Toulimembet, Kecamatan Kakas – Minahasa Selatan. Permulaan Cottage Meeting yang berlangsung, seperti biasanya di lakukan mulai pukul 3 pagi, di tandai dengan “Prayer Marching” mengelilingi desa tersebut sambil berdoa dan menangis untuk seluruh masyarakat yang ada.

Saat Cottage Meeting berlangsung, para misionari yang berkunjung dari rumah ke rumah setiap hari mendapat banyak penolakan saat mereka menutup pintu dan lari lewat pintu belakang. Ada yang berpura-pura tidak mendengar. Ada yang merespons bahwa mereka tidak perlu di ajar oleh gereja lain karena agama mereka cukup untuk belajar tentang keselamatan. Bahkan ada yang telah di ajar namun tidak mau membuat keputusan karena rasa solider dan takut yang tinggi antar keluarga mereka dan juga para pimpinan agama mereka.

Namun para misionari tidak putus asa, bahkan mereka justru bertelut di depan pintu kemudian menangis dan berdoa. Saat mereka pulang seharian setelah melawat mereka membuat komitmen dengan berdoa semalam suntuk di bukit, bahkan berpuasa. Sehingga akhirnya Tuhan menghadiahkan mereka jiwa untuk di baptis. Di samping itu masih ada 3 jiwa lain yang sudah menyatakan diri untuk di baptis namun belum sempat di lakukan karena saat kami kembali ke kampus, para majelis mereka masih menjaga para lawatan tersebut.

Satu mujizat yang terjadi pada malam terakhir KKR, terjadi pemadaman listrik sebelum acara dimulai dan saat yang sama generator yang ada rusak total. Kondisi generator saat itu sangat parah karena ring sehernya rusak serta bensinnya telah bercampur dengan oli mesin. Secara teori sangat mustahil untuk dinyalakan. Tidak ada cara lain yang dapat lakukan selain berdoa. Para misionari berkumpul berdoa mengelilingi generator supaya bisa menyala. Setelah selesai berdoa kami menyalakan generator tersebut. Mujizat terjadi, generator hidup walau pengatur bensin dalam keadaan tidak mengalir namun mesin berjalan selama 15 menit. Setelah itu mesin dapat berjalan normal kembali sampai selesai kegiatan.

Desa Lelema

Kelompok ke dua berjumlah 14 misionari di tempatkan di desa Lelema, kecamatan Tumpaan. Sebelum Cottage Meeting diadakan semua undangan telah disebarkan kepada warga dan gereja lain yang ada. Reaksi yang terjadi, pada malam pertama semua gereja yang ada menghimbau semua warga untuk beribadah bersama di luar jadwal yang biasanya. Hanya untuk mengalihkan perhatian dari KKR yang diadakan. Hal ini berlangsung dari malam ke malam. Namun sebaliknya banyak anak-anak dan remaja yang menghadiri KKR setiap malam. Hal ini kami rasakan hanya karena kuasa doa dan puasa sebelum KKR bersama jemaat. Doa kami hanya ditujukan sepenuhnya untuk warga Lelema agar dapat mengenal kebenaran. Melalui bombing prayer dan prayer marching bersama jemaat, Tuhan menjawab semuanya.

Ada jiwa yang sudah mengambil keputusan untuk dibaptis tetapi sering menghindar dari kami. Namun kami terus berdoa dan akhirnya dipertemukan dengannya dan akhirnya dia memutuskan untuk dibaptiskan.

Desa Bohabak-Bolaang-Mongondouw.

Kelompok ketiga yang berjumlah 14 misionari juga di kirim ke Jemaat Bohabak – Bolaang Mongondow. Kami menemukan banyak tantangan tatkala masyarakat sekitar mulai memperhatikan pergerakan kami yang terang-terangan datang ke rumah mereka.

Melalui kunjungan-kunjungan inilah kami mendapatkan seorang pelajar Alkitab yang bekerja sebagai Guru dan penggerak PKK. Dia rindu untuk menerima baptisan. Namun ketika suaminya mengetahuinya timbullah masalah. Dia dianiya oleh suaminya sehingga harus meninggalkan rumah beserta ke-2 putrinya. Kemudian suaminya melaporkan hal ini kepada Polisi. Hal ini mengundang amarah dari masyarakat yang mengetahuinya. Seluruh Majelis Agama baik Islam dan Kristen berkumpul karena keberatan atas perbuatan misionari. Seluruh misionari ketika mengetahui hal itu hanya dapat berdoa dan berpuasa.

Kemudian Tuhan bekerja melalui 2 orang polisi yang datang mengamankan Ibu tersebut. Ibu ini dibawa ke hadapan Majelis Agama. Dia mempertahankan kebenaran yang baru dia pelajari dan meminta haknya untuk kebebasannya memilih agama.

Puji Tuhan karena ini adalah waktunya panen jiwa bagi desa Bohabak. Kami hampir tidak pernah membuat panggilan kepada para lawatan. Justru ada ada seorang islam yang membuat keputusan karena di ajak oleh teman protestan yang lain untuk di baptiskan di Advent.

Saudaraku sekalian, kuasa Tuhan sedang bekerja, dan hingga kami meninggalkan ketiga tempat itu sekalipun, para anggota masih mengharapkan kami untuk melayani di tempat mereka. Terima kasih Tuhan karena 18 Jiwa yang telah engkau tuai untuk di persiapkan melayani di ladang-Mu dan mempersiapkan kedatangan Tuhan kedua kali.

Zepta, Devi dan Agus (Ketua-ketua team Misionari Angkatan ke-7

“PESTA PELEPASAN MISIONARI ANGKATAN KE-III”

p1011820 Sabat, tanggal 24 Maret 2007, merupakan pesta iman dan komitmen bagi para misionari. Sebanyak 26 misionari dengan resmi di lepaskan oleh Pdt. Bobby J. Sepang, Ketua Uni Konfrens Indonesia Kawasan Timur. Dalam amanat pelepasannya, pelopor pekerjaan TSPM di Indonesia ini dengan antusias menegaskan bahwa “…Tuhan selalu hadir dan Tuhan selalu melihat keberadaan para misionari di ladang mereka…”.

Acara berlanjut dengan sangat menegangkan serta mengharukan tatkala Pdt. Marthen L. Saluy, Direktur PA UKIKT dan Pdt. Stenly Karwur, Wakil Direktur 1000MM Indonesia, mengumumkan “Pasangan Misionari” yang akan di kirim berdua-dua serta ladang penginjilan mereka yang di sambut dengan berbagai ungkapan sukacita oleh para misionari sehingga membuat para pengunjung sangat terinspirasi dan bertekad untuk menyokong pekerjaan misionari ini bahkan beberapa orang muda juga terinspirasi untuk ikut bergabung pada pelatihan berikut. Pada akhir dari acara pelepasan ini Bpk. Herry Sumanti, Bendahara UKIKT, mewakili UKIKT, memberikan kenang-kenangan kepada para misionari berupa Alkitab dan Lagu Sion.

Acara yang berlangsung dari pukul 15.00 WITA ini di hadiri kurang lebih 400 orang dan sekitar 200 pemuda dan murid dari SLA Tompaso. Tidak hanya di hadiri oleh para offficer UKIKT, tapi juga oleh Pdt. Edward M. Senewe, ketua Konfrens Minahasa Selatan dan para staffnya, Pdt. Ferry Rattu, Sekretaris Konfrens Minahasa Utara , Pdt. Johny Karwur, Direktur Manado International School serta hampir duaratus anggota-anggota jemaat dari Gereja Silian, Ranomea, Pandu dan jemaat-jemaat terdekat di sekitar kampus misionari.

Berita yang indah lain lagi ialah, bertepatan dengan acara pelepasan tersebut, satu orang pemuda pekerja bangunan upahan bernama Agus yang sangat tertarik dengan aktivitas para misionari ini pada akhirnya di baptiskan setelah belajar pendalaman Alkitab bersama para misionari. Melihat akan kesungguh-sungguhan Agus ini, 1000MM Indonesia kemudian memutuskan untuk mengirimnya pulang untuk melayani daerah asalnya di Bunta, Sulawesi Tengah dengan di temani Misionari Rano Tohatu, dari angkatan ke-2 yang di perpanjang masa pelayanannya.

“TUHAN…! BANTU SAYA… PEKERJAAN-MU TIDAK BOLEH TERHENTI…”

yorni Saat mengadakan pelayanan, saya sakit. Saat itu saya berdoa: “Tuhan…! Bantu saya… Pekerjaan-Mu tidak boleh terhenti…” Saya tidak menyerah dengan keadaan saya saat itu dan tetap bersemangat melayani Tuhan sekalipun saya harus mati. Walaupun harus mati, biarlah saya mati di ladang penginjilan. Sungguh Luar biasa! Tuhan bekerja dengan alat yang sederhana! Hanya dengan minum carchol (arang kelapa) saya sembuh. Setelah kejadian itu, saya lebih semangat lagi untuk melayani Tuhan karena saya telah melihat bahwa DIA bekerja bersama-sama dengan saya.

Saya bertugas di daerah Husagama, Kab Yahukimo, Papua. Daerah ini sulit dijangkau, sarana menunjang pendidikan anak-anak juga terbatas. Ini mempermudah kami untuk lebih dekat dengan masyarakat, terutama dengan kepala suku. Dengan bantuan masyarakat, kami membuat bangunan sekolah dari alang-alang yang dibagi dua ruangan. Ruangan kelas 1 untuk anak-anak yang belum dapat membaca. Ruangan satunya lagi untuk kelas 2, untuk anak-anak yang sudah dapat membaca. Puji Tuhan! Saat ini sudah ada 42 murid yang diajar. Karena tidak ada guru yang mengajar disekolah mereka, beberapa anak dari kampung tetangga datang untuk belajar. Kami sangat terbeban dengan kondisi ini karena mereka harus berjalan 1 hari lamanya. Dengan kerjasama yang telah terjalin dengan baik, kami bersama dengan masyarakat membangun 2 asrama, yaitu asrama pria dan wanita.

Kami juga melayani mereka sesuai dengan pengetahuan kesehatan yang kami miliki. Walaupun obat-obatan yang kami berikan terbatas, namun tangan Tuhan bekerja. Setelah meminum obat yang kami berikan, mereka sembuh. Berita ini terdengar oleh kampung tetangga hingga akhirnya ada yang datang untuk berobat ke tempat kami. Ini mempermudah pelayanan kami, sehingga kami dapat membentuk kelompok-kelompok kecil untuk belajar Alkitab.

Akhir tahunpun tiba. Salah satu gereja protestan di tempat kami, yaitu Gereja Kingmi, mungundang kami untuk hadir di acara natal yang mereka buat yang bertempat di desa Lokon. Bapak Camat Werima hadir dalam acara itu dan saya memberikan laporan kegiatan kegiatan pelayanan misionaris yang mencakup bidang kesehatan dan pendidikan. Ia sangat senang membaca laporan kegiatan kami, saat itu juga, beliau meminta foto-foto tersebut untuk menjadi program di Kabupaten Yahukimo. Bahkan beliaupun berjanji untuk membantu sekolah kita yang ada di Husagama pada tahun 2009 ini.

Melalui peristiwa ini membuat gereja Kingmi & GKI menolak gereja Advent. Mereka menyatakan, bahwa “semua agama Kristen harus berbakti pada hari Minggu…”, dan kalau ada anggota gereja Kingmi & GKI masuk di gereja Advent, gereja Advent harus membayar uang kepada klasis sebanyak Rp 10.000.000,-. Dan bukan hanya itu saja, mereka mengatakan bahwa gereja Advent belum disahkan oleh pemerintah karena gereja Advent adalah denominasi baru. Saat ketua jemaat (Advent) menjelaskan kepada mereka bahwa tentang hari sabat dalam Alkitab, ini menyulut emosi mereka. Hingga akhirnya bapak Camatpun turun tangan untuk meredakan situasi yang telah memanas.

Suatu hari, saya dikejutkan oleh teriakan seseorang yang memanggil saya. Saat itu jam 10. “Pak…! Pak…! Telinya jatuh di halaman sekolah…!”: teman-teman Teli memanggil saya. Teli adalah salah satu murid SD kelas 1. Dengan cepat saya keluar dari rumah dan mengangkat dan membawanya ke asrama perempuan. saya menyentuhnya. Nadinya masih berdenyut…! Saya buka dia punya mulut, gigi-giginya sudah bergabung jadi satu. Saya buka dia punya mata, mata warna putih sudah mulai naik. Perlahan-lahan mata warna hitam mulai menghilang. Akhirnya kami mulai berdoa. Setelah menyanyi selama 2 kali, dia belum sadar juga. Pada saat ke 3 kalinya, saya meminta dalam doa: Tuhan… Ampuni segala dosa dan kesalahan saya…!” Setelah itu saya mendoakan dia. Puji Tuhan…! Setelah kami mengucapkan kata “Amin,” hingga saat ini dia dalam keadaan baik.

Husagama terletak pada ketinggian 8000 kaki di atas permukaan Laut. Berpenduduk kurang lebih 1350 jiwa. Terdapat 25 anggota baptis, namun ada kurang lebih 75 orang yang hadir kebaktian tiap sabat. Ada 2 Gereja Masehi Advent Hari Ke-7 (GMAHK), namun belum ada pendeta. Saat kisah ini dituliskan, telah ada 25 keluarga yang hendak bergabung dengan GMAHK, serta 18 orang muda yang rindu untuk dibaptiskan tetapi mendapat halangan dari orang tua mereka.

Yorni Teftae, Hosagama, papua

SENJATA PEMBUNUH

wilsen1Perlahan-lahan saya dan patner saya mendekati pendeta itu, juga dibantu oleh bapak John. Bapak John adalah anggota Gereja Advent di tempat ini. Ia sangat banyak membantu kami selama pelayanan di Sorong. Akhirnya, bapak pendeta Imanuel menerima kebenaran Hari Sabat. “Wilsen… Hengky… Biarkan perlahan-lahan kita memperkanalkan Hari Sabat kepada warga…” kata pendeta Imanuel pada kami.

Tidaklah mudah bagi kami untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di pedalaman. Karena ini pengalaman pertama selama saya untuk hidup jauh dari orang tua. Namun Allah itu sangat baik. Sekalipun hanya makan papeda dan sinoli yang terbuat dari SAGU, kami tidak pernah merasakan berkat Tuhan berkurang dalam kehidupan kami.
Kami melayani di Dusun Mumes, dengan mayoritas penduduk beragama Kristen Pantekosta dan satu keluarga Advent pendatang dari Seram, Ambon. Kami mengadakan pendekatan dengan warga setempat. Namun saat itu saya merasa kesulitan karena masyarakat lebih terbiasa dengan rekan kerja saya yang berkulit lebih gelap dari saya. Kami juga mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan mereka. Apalagi untuk memberikan pelajaran Alkitab kepada mereka.

Tapi Puji Tuhan, kami mencoba mempelajari bahasa daerah yang sering mereka gunakan sehari-harinya. Dan Tuhan juga telah mempersiapkan dua orang yang dapat membaca serta berkomunikasi baik dengan kami, yaitu: bapak pendeta Imanuel Mambrasar (gembala Pantekosta) dan kepala dusun.

Setiap hari sabat, kami diizinkan oleh pendeta untuk menggunakan gerejanya. Kejadian ini membuat anggota gereja merasa tidak senang dangan kami. Kami terus berdoa kepada Tuhan. Puji Tuhan! Dia membukakan jlan bagi kami. Suatu hari musim ombak basar datang melanda pulau kami. Perahu-perahu dari warga yang sedang berlabuh tenggelam. Saat itu sudah jam 10 malam. Kami berusaha membantu warga menyelamatkan perahu yang sudah tenggelam. Angin yang bertiup kencang dan ombak yang besar menyulitkan kami untuk berenang. patner saya hampir saja tenggelem. Dia tidak mampu lagi untuk berenang. Luar biasa! Tuhan Yesus memampukan saya untuk dapat menolongnya berenang kembali kedaratan. Melalui kejadian malam itu Allah bekerja. Perasaan tidak senang dari warga berganti menjadi rasa ungkapan terima kasih. Kami dapat menggunakan bangunan gereja dengan rasa aman.

Doa dan puasa adalah senjata terbesar yang kami miliki selama kami mengadakan pelayanan. Pergerakan gereja Advent dilarang keras oleh pimpinan gereja protestan yang merupakan denominasi terbesar di daerah kepulauan Raja Ampat. Telah beberapa kali mereka mencekal pelaksanaan kegiatan kerohanian gereja Advent yang ada di kampung Sauwandarek (di sebelah barat pulau tempat kami melayani). Dan bukan hanya itu, kerena kuatnya sistem yang mereka miliki, pemerintahan yang ada di kampung Sawandarek Selau pun mendapat kontrol dari pimpinan gereja protestan yang ada di tingkat kabupaten. Pendeta distrik Selau menguatkan kami: “Jangan pernah takut menyatakan Kebenaran Sabat pada semua orang. Pekerjaan ini bukanlah pekerjaan manusia. Roh kudus akan memberikan mereka pengertian akan kebenaran Firman Tuhan.” Kuasa Tuhan begitu besar nyata dalam pelayanan yang kami lakukan.

Sebelum masa tugas berakhir, kami mengadakan KKR. Setelah semua persiapan KKR selesai, langkah terakhir yang kami harus lakukan adalah meminta izin kepada pemerintah yang ada di tempat itu. Rasa khawatir terus saja membayangi kami berdua. Namun dengan pertolongan Tuhan, partner saya berhasil mendapatkan izin tersebut. Rasa cemas hilang. Tidak ada alasan untuk khawatir. Selama satu minggu, KKR yang telah direncanakan berjalan dengan baik. Bapak pdt. Imanuel dan istri, beserta dua anak muda dibaptiskan pada akhir KKR. Gereja Pantekosta yang ada di Mumespun akhirnya ditutup setiap hari Minggu. Dan saat ini, mereka telah beribadah pada hari Sabat. Sekalipun tidak semua anggota-anggotanya dibaptiskan, kepala dusun mumes dan jemaat yang lain ikut juga beribadah pada hari Sabat. Bahkan satu minggu setelah kami meninggalkan tempat itu, jemaat yang ada di Mumes melaksanakan seminar tentang kebenaran hari Sabat di gereja Pantekosta distrik teluk Maiyalibit (sisi yang lain dari teluk, kira-kira 15 menit perjalanan dengan perahu cepat).

Harapan kami, pelayanan di Mumes akan lebih berkembang hingga kedatangan Tuhan kedua kali. Kiranya ini boleh menjadi doa kami bersama. Tuhan memberkati.

Wilsen & Hengky, Misionari Angkatan 5, di Desa Mumu, Sorong

Kepada para ’Laskar Yesus’ yang kekasih, SELAMAT DATANG !

pdt-missah Oleh karena dedikasi yang tinggi serta untuk sebuah maksud yang mulia-lah maka Anda telah datang ke kampus ‘1000 Missionary’ ini. Hari ini dan hari-hari selanjutnya Anda akan dibina, diarahkan, dan disiapkan untuk menjadi ‘Pengabar-pengabar Injil’ yang handal, setelah itu Anda akan ‘diterjunkan di lapangan’, melaksanakan Amanat Agung Yesus Kristus, menyampaikan ‘Kabar Baik’ kepada mereka yang belum mengenal Dia.

Ketika Yesus berada di dunia ini, Ia pergi dari satu rumah ke rumah yang lain, menyembuhkan orang-orang yang sakit, menghibur mereka yang berduka dan dirundung malapetaka, dan memberikan pengharapan kepada mereka yang putus asa. Paulus dan Barnabas-pun dalam melaksanakan tugas sebagai misionari, mereka melakukan seperti apa yang Yesus lakukan yaitu rela berkorban, bekerja dengan setia untuk keselamatan jiwa-jiwa, berdoa tak berkeputusan sambil menaburkan bibit-bibit kebenaran.

Anda adalah Paulus-Paulus dan Barnabas-Barnabas moderen. Peranan Anda sebagai ‘Pengabar Injil” sangat menentukan apakah ‘Kabar Baik’ ini dapat segera disebarkan kepada semua ‘bangsa, dan suku, dan bahasa, dan kaum,’ sebelum Yesus datang kembali ke dunia ini. Sukses tugas ini ada di tangan Anda.

Selamat menikmati kebersamaan di tempat ini, saya berdoa agar Anda memperoleh sukacita yang akan menambah semangat, enerji, visi, dan misi dalam mempersiapkan pelayanan selanjutnya. Tuhan memberkati!

Pdt. Hiskia I. Missah
Associate Youth Director of General Conference
Of Seventh-day Adventist Church